Pages

Powered By Blogger
Showing posts with label Filsafat Ilmu Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Ilmu Komunikasi. Show all posts

Friday, April 27, 2012

MORAL, SOSIAL, DAN BUDAYA KOMUNIKASI

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I


Dimensi moral, Sosial dan Budaya Ilmu Komunikasi  dalam Pembangunan

Komunikasi dan Perkembangannya

Menurut Jujun S. Suriasumantri, Komunikasi sebagai ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Pengkomunikasian itu sendiri biasanya diwujudkan dalam penerapan ilmu komunikasi di masyarakat. Misalnya kala ditemukannya telephone oleh alexander graham bell. Dari telephone yang sangat sederhana ia terus berkembang menjadi berbagai model dan bentuk serta berbagai macam fitue sesuai dengan kebutuhan pemakai.Dalam hal inilah penerapan ilmu komunikasi sangat terkait dengan aksiologinya.

Aksiologi Ilmu Komunikasi

Jujun menyatakan bahwa Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Menurut Suciati aksiologi ilmu komunikasi itu meliputi logika, etika dan estetika.
Lebih jauh disini akan dipaparkan bagaimana ilmu komunikasi dapat diterapkan dalam masyarakat sehubungan dengan pembangunan dilihat dari sisi moral, sosial dan budaya.
Dimensi Moral Ilmu Komunikasi

Jujun menyatakan, bahwa netralitas ilmu terhdap nilai-nilai hanya terletak pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaan, bahkan pemilihan obyek keilmuan, harus berdasarkan asas-asas moral.
Sehingga pertanyaan besarnya adalah apakah ilmu komunikasi telah memberikan sumbangan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan? Karena perkembangan ilmu komunikasi yang begitu pesat ini tidak saja menimbulkan efek positif semata, melainkan juga efek negatif.

Menurut Becker, ada beberapa fungsi komunikasi massa bagi individu, diantaranya:

1.    Pengawasan atau pencarian informasi
2.    Pengawasan diri
3.    Fasilitas dalam hubungan sosial
4.    Subtitusi dalam hubungan sosial
5.    Membantu melegakan emosi
6.    Sarana pelarian dari ketegangan dan keterasingan
7.    Bagian dari kehidupan rutin (ritualisasi)

Sehingga menurut Bakhtiar, Melalui fungsi-fungsi tersebut diharapkan ilmuwan komunikasi sebagai individu memiliki hakikat moral, sebab ilmu komunikasi berkaitan erat dengan persoalan nilai-nilai moral.

Dalam kondisi ini ilmu tidak lagi bebas nilai, dikarenakan ilmu tersebut sudah diterapkan dan sudah berada di tengah-tengah masyarakat luas. Menurut Bakhtiar, penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh ilmuwan, baik itu berwujud teknologi ataupun teori-teori emansipasi masyarakat dan sebagainya semestinya memperhatikan nilai adat, nilai keagamaan, nilai kemanusiaan dan lain-lain.

Dimensi Sosial Ilmu Komunikasi

“Sosial” dalam KBBI berarti, berkenaan dengan masyarakat.
Dalam dimensi sosial, ilmu komunikasi berhubungan erat dengan etika. Makna etika dipakai dalam 2 bentuk arti:
1.    Etika sebagai suatu kumpulan pengetahuan tentang penilaian terhadap perbuatan manusia.
2.    Etika sebagai suatu predikat yang dipakai guna membedakan perbuatan-perbuatan, hal-hal, atau manusia yang lain.

Etika memiliki objek formal, yaitu norma-norma kesusilaan manusia.
Beberapa fungsi sosial komunikasi menurut Laswell & Wright adalah:

1.    Pengawasan lingkungan
2.    Korelasi sosial
3.    Sosialisasi
4.    hiburan
5.    Sedangkan Lazarsfeld & Marton membaginya menjadi:
6.    Mengukuhkan status sosial
7.    Memperkokoh norma-norma sosial

Sehingga menurut Effendi, dari fungsi di atas terlihat, bahwa dengan ilmu komunikasi diharapkan terjadi perubahan pendapat, sikap, maupun prilaku.

Dimensi Budaya Ilmu Komunikasi

Keterkaitan dimensi budaya dengan ilmu komunikasi tidak terlepas dari estetika.
Sedangkan menurut Bakhtiar, estetika itu sendiri berhubungan dengan nilai pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Sehingga ilmu komunikasi dari sudut pandang estetika adalah seni, seperti seni retorika, seni film dan lain sebagainya.

Menurut Purwasito, Komunikasi adalah pertukaran simbol, jadi komunikasi antar budaya adalah pertukaran pertukaran simbol dari dua orang atau lebih yang dilatar belakangi oleh faktor perbedaan budaya, diantara perbedaan tersebut adalah:

1.    Bahasa
2.    Keyakinan
3.    Adat Istiadat
4.    Kepercayaan
5.    Status sosial-ekonomi dan lain sebagainya

Maka, dengan adanya komunikasi antar budaya tersebut dapat terjadi pertukaran simbol, yang mana simbol-simbol tersebut berhubungan erat dengan estetika. Apabila pertukaran simbol terjadi, maka akan muncul interpretasi. Dari interpretasi akan muncul makna yang berkaitan dengan simbol yang berkaitan dengan estetika.

Kesimpulan

Dari dimensi moral, ilmu komunikasi ditunjukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.
Dari dimensi sosial, ilmu komunikasi bertujuan untuk bisa mensosialisasikan ide-ide, melakukan pengawasan, menjadi hiburan positif, memperkokoh norma-norma sosial, dan sebagainya.
Dari dimensi budaya, ilmu komunikasi diharapkan mampu mengikis konflik antar budaya serta memperkenalkan nilai-nilai budaya masyarakat kepada masyarakat lain.

BAHASA SEBAGAI MEDIUM KOMUNIKASI

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I


 Bahasa sebagai medium komunikasi
Sebuah perspektif filsafat

Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. “Tanpa bahasa”, simpul Aldous Huxley, “manusia tak berbeda dengan anjing atau monyet” (Jujun S. Suriasumantri)
Manusia dapat berpikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat berpikir secara rumit dan abstrak dalam kegiatan ilmiah.
Dalam pandangan Ernst Cassirer (1874-1945) ciri khas manusia ialah bahwa ia merupakan animal symbolicum, makhluk yang mengerti serta membentuk simbol.
Dengan simbol, manusia dapat menciptakan suatu dunia kultural, dimana terdapat bahasa, mitos dan agama, kesenian, ilmu pengetahuan (K. Bertens, 1983)
Sejak dulu, para ahli pikir menyebut manusia sebagai animal rationale, yang berpangkal pada istilah Yunani logon ekhoon, yaitu makhluk yang dilengkapi tutur kata dan akal budi. Istilah logos menunjukkan arti suatu perbuatan atupun isyarat, inti sesuatu hal, cerita, kata ataupun susunan. Logos menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitarinya. (Var Perseun dalam Alex Sobur, 2006: 273)

Aspek dan fungsi bahasa

Bahasa memiliki dua aspek, yakni aspek informatif dan emotif. Keduanya tercermin dalam bahasa yang digunakan. Artinya, kalau seseorang berbicara maka pada hakikatnya informasi yang disampaikan mengandung unsur emotif, demikian juga kalau seseorang mengungkapkan ekspresi, maka eksresi itu mengandung unsur-unsur informatif (Jujun S. Suriasumantri, 2005: 173)
Telaan lebih lanjut tentang bahasa menunjukkan bahwa bahasa mengkomunikasikan tiga hal, yaitu buah pikiran, perasaan, dan sikap. Atau seperti dinyatakan oleh George F. Kneller (1964), bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik.
Bahasa mempunyai fungsi yang amat penting bagi manusia, terutama sekali fungsi komunikasi. H.A.K Haliday dalam exploration in the function of language (dalam Tarigan, 1993: 6-8) menemukan tujuh fungsi bahasa, yaitu:

    1. The instrumental function (fungsi instrumental)
    2. The regulatory function (fungsi regulasi)
    3. The representational function (fungsi representatif)
    4. The interactional function (fungsi interaksi)
    5. The personal function (fungsi personal)
    6. The heuristic function (fungsi heuristik)
    7. The imaginative function (fungsi imajinatif)
Menurut apa yang disebut “Sapir-Whorf hypothesis”, bahasa menentukan bukan hanya budaya, tetapi juga cara dan jalan pikiran manusia (Alex Sobur: 2006: 291)

Apakah sebenarnya bahasa

Bahasa pada dirinya mengandung dua hal:
•    pertama, bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini manusia mempergunakan bunyi sebagai alat utuk berkomunikasi.

•    kedua, bahasa merupakan lambang/simbol dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu (Jujun S. Suriasumantri, 2005: 175)

Dengan bahasa manusia dapat berpikir secara teratur namun juga dapat mengkomunikasi apa yang sedang dipikirkan kepada orang lain.
Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dua dunia yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa.
Lewat bahasa manusia menyusun sendi-sendi yang membuka rahasia alam dalam berbagai teori seperti teori relativitas dan quantum. Oleh karenanya, “pengetahuan adalah kekuasaan”, kata Francis Bacon.

Komunikasi estetik & komunikasi ilmiah
Seni merupakan kegiatan estetik yang banyak mempergunakan aspek emotif dari bahasa, baik itu seni suara maupun seni sastra. Dalam hal ini bahasa bukan saja dipergunakan untuk mengungkapkan perasaan itu sendiri, melainkan juga merupakan ramuan untuk menjelmakan pengalaman yang ekspresif. Bahasa dipergunakan secara plastik, dimana komunikasi yang terjadi mempunyai kecenderungan emotif.
Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk komunikasi yang berbeda dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi berupa pengetahuan. Agar komunikasi ilmiah ini berjalan dengan baik maka bahasa yang dipergunakan harus terbebas dari unsur-unsur emotif. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif.
Sebagai sarana komunikasi ilmiah, bahasa mempunyai beberapa kekurangan:
pertama, kekurangan ini pada hakikatnya terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi, yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif dan simbolik. Komunikasi ilmiah berupaya membatasi diri dengan aspek simbolik saja dari ketiga fungsi bahasa.

KRITERIA & CARA MENEMUKAN KEBENARAN

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I

A.    KRITERIA KEBENARAN

Apakah “benar” itu?

Randall & Bucher: “Persesuaian antara pikiran dan kenyataan”.

Jujun S. Suriasumantri: “Pernyataan tanpa ragu”.

Ketika kita mengakui kebenaran sebuah proposisi bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari, dasar kita, tidak lain adalah sesuai tidaknya proposisi tersebut dengan kenyataannya.

B.     TEORI PENENTUAN KEBENARAN

1.    Teori Koherensi (Teori kebenaran saling berhubungan)

“Suatu proposisi (pernyataan) dianggap benar apabila pernyataan tersebut bersifat konheren atau konsisten atau saling berhubungan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Contoh: jika kita menganggap bahwa, “semua makhluk hidup pasti akan mati” adalah pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “pohon kelapa adalah makluk hidup dan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.
Teori koherensi dipergunakan pada proses penalaran teoritis yang didasarkan pada logika deduktif.

2.    Teori Korespondensi (Teori saling berkesesuaian)

Teori ini digagas oleh Bernard Russell (1872-1970). Menurutnya pernyataan dikatakan benar bila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan tersebut saling berkesesuaian dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

Contoh: jika seseorang mengatakan bahwa “tugu monas ada di kota Jakarta” maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan tersebut sesuai dengan fakta bahwa tugu monas berdiri di kota Jakarta.
Teori korespondensi digunakan untuk proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan data-data yang mendukung suatu pernyataan yang telah dibuat sebelumnya.

3.    Teori Pragmatisme (Teori konsekuensi kegunaan)

Teori yang dicetuskan oleh Peirce (1839-1914) ini disandarkan pada teori pragmatisme. Penganut teori ini menyatakan bahwa kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria “apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis?”. Artinya, suatu pernyataan dikatakan benar jika konsekuensi dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
Pragmatisme bukanlah suatu aliran filsafat yang memiliki doktrin-doktrin falsafati, melainkan teori dalam penentuan kriteria kebenaran.


C.     CARA PENEMUAN KEBENARAN

Antara Pengetahuan dan Ilmu

Pengetahuan (knowledge) sudah puas dengan “menangkap tanpa ragu” kenyataan sesuatu, sedangkan ilmu (science) menghendaki penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan.

Contoh: Si Buyung mengetahui bahwa pelampung kailnya selalu terapung di air, ia akan membantah jika dikatakan bahwa gabus pelampungnya itu tenggelam, sampai disini wilayah pengetahuan. Namun, jika ia memahami bahwa berat jenis pelampung lebih kecil dibandingkan berat jenis air sehingga mengakibatkan pelampung selalu terapung, maka ini telah memasuki wilayah ilmu.

Untuk mencapai kebenaran pengetahuan dan ilmu tersebut ditempuh oleh manusia dengan cara “ilmiah” dan “non-ilmiah”.

Cara penemuan kebenaran ilmiah

Penemuan kebenaran dengan cara ilmiah adalah berupa kegiatan penelitian ilmiah dan dibangun atas teori-teori tertentu. kita dapat pahami bahwa teori-teori tersebut berkembang melalui penelitian ilmiah, yaitu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data-data empiris yang ditemukan di lapangan. 

Teori yang ditemukan harus dapat diuji keajekan dan kejituan internalnya. Artinya, jika penelitian ulang dilakukan dengan langkah-langkah serupa pada kondisi yang sama maka akan diperoleh hasil yang sama atau hampir sama.

Untuk sampai pada kebenaran ilmiah ini, maka harus melewati 3 tahapan berpikir ilmiah yang harus dilewati, yaitu: 1) Skeptik; 2) Analitik; dan 3) Kritis.

1.    Skeptik
Cara berfikir ilmiah pertama ini ditandai oleh cara orang di dalam menerima kebenaran informasi atau pengetahuan tidak langsung di terima begitu saja, namun dia berusaha untuk menanyakan fakta atau bukti terhadap tiap pernyataan yang diterimanya.

2.    Analitik
Ciri ini ditandai oleh cara orang dalam melakukan setiap kegiatan, ia selalu berusaha menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya, mana yang relevan dan mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya.Dengan cara ini maka jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi akan dapat diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan.

3.    Kritis
Ciri berfikir ilmiah ketiga adalah ditandai dengan orang yang selalu berupaya mengembangkan kemampuan menimbang setiap permasalahan yang dihadapinya secara objektif. Hal ini dilakukan agar semua data dan pola berpikir yang diterapkan selalu logis.

Cara penemuan kebenaran non-ilmiah

1.    Akal sehat (common sence)
Akal sehat menurut Counaut adalah serangkaian konsep dan bagan yang memuaskan untuk kegunaan praktis bagi manusia. Sedangkan bagan konsep adalah seperangkat konsep yang dirangkaikan dengan dalil-dalil hipotesis dan teori.

2.    Prasangka
Penemuan pengetahuan yang dilakukan melalui akal sehat kebanyakan diwarnai oleh kepentingan orang yang melakukannya. Hal ini menyebabkan akal sehat mudah berubah menjadi prasangka. Dengan akal sehat orang cenderung ke arah perbuatan generalisasi yang terlalu dipaksakan, sehingga hal tersebut menjadi prasangka.

3.    Pendekatan intuitif
Dalam pendekatan ini orang memberikan pendapat tentang suatu hal yang berdasarkan atas “pengetahuan” yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih dahulu. Dengan intuitif orang memberi penilaian tanpa didahului oleh suatu renungan.

4.    Penemuan kebetulan dan coba-coba
Penemuan secara kebetulan dan coba-coba, banyak diantaranya yang sangat berguna. Penemuan ini diperoleh tanpa rencana, dan tidak pasti. Misalnya, seorang anak yang terkunci dalam kamar, dalam kebingungannya ia mencoba keluar lewat jendela dan berhasil.

5.    Pendapat otoritas ilmiah dan pikiran ilmiah
Otoritas ilmiah biasanya dapat diperoleh seseorang yang telah menempuh pendidikan formal tertinggi, misalnya Doktor atau seseorang dengan pengalaman profesional atau kerja ilmiah dalam suatu bidang yang cukup banyak (profesor). Pendapat mereka seringkali diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa diuji, karena apa yang mereka telah dipandang benar. Padahal, pendapat otoritas ilmiah tidak selamanya benar, bila pendapat tersebut tidak disandarkan pada hasil penelitian, namun hanya disandarkan pada pikiran logis semata.

HERMENEUTIKA

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I



HERMENEUTIKA : Bergumul dengan penafsiran

Makna kata Hermeneutika

Kata hermeneutika berasal dari nama Dewa Hermes. Hermes, dalam mitologi Yunani bertugas menyampaikan dan menafsirkan pesan Tuhan kepada manusia. Untuk menyampaikan pesan, Hermes harus membiasakan diri dengan bahasa Tuhan dan bahasa orang lain dimana pesan itu disebarkan.
 Dalam konteks komunikasi dapat dikatakan bahwa Hermes membawa pesan dari Tuhan sebagai sender kepada manusia (receiver). 
Oleh karenanya ada dua bagian besar tugas Hermes, yaitu:

1.    Ia harus memahami dan menerjemahkan untuk dirinya apa yang Tuhan ingin sampaikan ke dunia
2.    Ia harus menerjemahkan dan mengartikulasikan pesan-pesan tersebut kepada makhluk hidup (Gary Radford, on the philosophy of communication)

jadi dapat dikatakan bahwa hermeneutika adalah pergulatan dengan penafsiran. Oleh karenanya wilayah hermeneutika mengandung tiga unsur utama:

1.    Adanya tanda, pesan, berita atau yang sering disebut sebagai teks
2.    Harus ada sekelompok orang yang merasa “asing” terhadap teks
3.    Adanya pengantara yang dekat dengan kedua belah pihak (C. Verhaak dalam Mudji Sutrisno, et. Al, 1994)

Hermeneutika masa klasik

Hermeneutika pada masa awalnya sub disiplin teologi, yaitu upaya mengeluarkan maksud teks dari kitab suci (eksegesis). Tokoh pertama yang memberikan tonggak yang kukuh bagi hermeneutika adalah Freidrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834). Bagi Schleiermacher hermeneutika adalah mengalami kembali proses batin pengarang teks. Hermeneutika berarti “rekonstruksi makna dengan menggunakan unsur kupasan bahasa dan psikologis.

Bagi Schleiermacher, filologi tidak mampu mengungkap wawasan khusus pengarang, karena tidak sampai pada tataran psikologi. Oleh karenanya memahami seorang penulis tidak sebatas memahami kata-katanya, tetapi juga lingkungan ilmiah dan budaya dimana ia hidup ( Roy, J. Howard, 2000).

Proses hermeneutika, adalah proses mengatasi “keasingan” suatu teks dengan masuk ke batin pengarang. Jalannya lewat interpretasi psikologis. (K. Bertens, 1983).

Para filsuf hermeneutika

Ada dua pendekatan utama dalam hermeneutika, yaitu:

1.    pendekatan yang bersumber pada linguistik
perumusnya adalah Ferdinand de Saussure. Pemikiran Saussure ini mempengaruhi Noam Chomsky, Umberto Eco hingga Roland Barthes. Bentuk akhir dari pendekatan ini adalah strukturalisme yang menegaskan “matinya” pengarang atau individu

2.    Pendekatan eksplisit yang bersumber dari Hegel, Marx dan Fenemonologi. Pendekatan kedua inilah yang menjadi fokus kajian sekarang ini.

Wilhelm Dilthey (1833-1911)

Filsafat Dilthey sering disebut sebagai Filsafat kehidupan (philosophie des Lebens)
Secara garis besar ada tiga pemikiran utama Dilthey yaitu:

a.     filsafat kehidupan. Bagi Dilthey kehidupan tidak saja bermakna biologis, tetapi seluruh kehidupan manusiawi dengan kompleksitasnya yang kaya. Dilthey menolak transendensi, dan mengarahkan pemikirannya kepada pengalaman.

b.    perbedaan antara ilmu alam dan humaniora. Dilthey membagi ilmu pengetahuan menjadi dua yaitu Naturwissenschaften (ilmu pengetahuan alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu pengetahuan budaya). Menurut Dilthey, ilmu pengetahuan budaya mempunyai suatu metode tersendiri yang tidak dapat diasalkan dari metode ilmu alam. Ilmu pengetahuan alam mendasarkan metodenya kepada Eklaren (menjelaskan), sementara ilmu pengetahuan budaya harusnya dipraktekkan dengan metode verstehen (mengerti).

c.    Logika untuk menginterpretasikan (hermeneutika). Menurut Dilthey beberapa syarat harus dipenuhi dulu supaya hermeneutika dapat berjalan, yaitu:

pertama, pembiasaan dengan proses-proses psikis yang memungkinkan suatu makna. Oleh karenanya bagi Dilthey biografi dan psikologi menjadi penting

kedua, pengetahuan tentang konteks. Suatu kata hanya dapat dimengerti dalam kalimat bahkan konteks yang lebih luas
ketiga, mempunyai pengetahuan sistem sosial dan kultural dari teks yang dipelajari (K. Bertens, 1983).

Hans-Georg Gadamer

Dalam pemikiran Gadamer, “mengerti” tidak mungkin tanpa bahasa. Yang “Ada” menampakkan diri dalam bahasa. Dengan kata lain dalam situasi hermeneutis “Ada” tampak sebagai percakapan, sebagai dialog. Untuk “mengerti”, manusia harus mempunyai pra pengertian. Inilah yang disebut sebagai lingkaran hermeneutis. 

Bagi Gadamer, arti suatu teks tetap terbuka dan tidak terbatas pada maksud si pengarang. Maka dari itu interpretasi tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif.

Interpretasi dapat memperkaya arti suatu teks. Karena arti suatu teks tidak terbatas untuk masa lampau, tetapi mempunyai keterbukaan juga terhadap masa depan. Oleh karenanya setiap jaman harus mengusahakan interpretasinya sendiri sesuai jamannya. Seorang interpertator tidak dapat melepaskan diri dari situasi historisnya.

Tafsir sejarah dan ilmu budaya dalam hermeneutika Gadamer bersifat sinkronis. Yang hendak dicapai dari hermeneutika Gadamer adalah fusion of horizons, penyatuan pengarang dan pembaca.

Thursday, March 29, 2012

JURGEN HABERMAS

 Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I


 
Jurgen Habermas
Biografi Habermas
Jurgen Habermas dilahirkan di Jerman 18 Juni 1929, merupakan filosof yang sangat berpengaruh. Pergualatan pemikirannya terbentuk setelah bergabung dalam mazhab Frankfurt. Mazhab Frankfurt berdiri dalam tradisi besar yang mengambil inspirasi dari Karl Marx dan terait dengan upaya untuk mengkritisi hubungan-hubungan sosial yang nyata.
Habermas banyak tertarik pada bidang kesusastraan, sejarah, filsafat dan juga psikologi dan ekonomi. Perkenalannya dengan Institut Penelitian Sosial terjadi pada tahun 1956 pada masa Adorno menjadi ketua. Bersama Adorno, ia mengambil proyek penelitian mengenai sikap politik mahasiswa Frankfurt, yang kemudian di publikasikan dalam buku Student un politik (Mahasiswa dan Politik) pada tahun 1964.
Pada tahun yang sama ia diundang menjadi Profesor filsafat di Heidelberg. Pada tahun 1964 pula, ia kembali lagi ke Universitas Frankfurt dan menggantikan kedudukan Horkheimer sebagai Profesor Sosiologi dan Filsafat. Sejalan dengan para pendahulunya habermas hendak membangun sebuah “teori dengan maksud praksis”. Corak penafsiran yang dilakukannya bersifat “ilmiah” sekaligus “filosofis”
Pemikiran Habermas
  1. Public Sphere
·         Tidak seperti pendahulunya yang berupaya mengadakan revolusi yang didasarkan atas “paradigma kerja”, maka Habermas memberikan pemahaman baru tentang rasio manusia, yaitu “paradigma komunikasi”
·         Implikasinya adalah demi terciptanya masyarakat sosialis yang dicita-citakan, Habermas justru menempuh jalan konsensus dengan sasaran terciptanya “demokrasi liberal”, yaitu hubungan sosial yang terjadi dalam lingkup “komunikasi bebas penguasaan” (Public Sphere)
  1. Pertautan pengetahuan dan kepentingan
·         Teori memilik pertautan dengan dimensi praksis. Itulah sebabnya harus ada pembedaan antara kepentingan kerja (kognitis-etis) dengan paradigma komunikasi (moral-praktis.
·         Paradigma kerja lebih menyangkut pada kepentingan-kepentingan teknis, seperti penguasaan atas alam  untuk kegiatan produksi, sementara paradigma komunikasi lebih berkaitan dengan dengan kepentingan praktis, yaitu interaksi antar manusia .
  1. Masyarakat harus dipahami sbg sebuah kombinasi antara tiga macam kepentingan utama: (1) Kerja (work); (2) Interaksi (interaction); (3) Kekuasaan (power)
·         Kepentingan bekerja (work)
terkait dg usaha2 utk menciptakan sumberdaya material
·         Karena sifat2 instrumentalnya utk menangani pekerjaan2 yg terlihat utk memperoleh hasil yg objektif bekerja ini lebih banyak terkait dg kepentingan teknis (technical interest) yang melibatkan rasionalitas instrumental (instrumental rationality) yg direpresentasikan dlm ilmu pengetahuan analitis-empiris (empirical-analytical science)
·         Teknologi digunakan sbg sebuah instrumen utk memperoleh hasil2 praktis yg didasarkan pd penelitian ilmiah.
  1. Kepentingan Interaksi (interaction)
·         Terkait dg penggunaan bahasa dan sistem2 simbol lain dlm komunikasi
·         Karena kerjasama sosial perlu untuk bisa bertahan (survival) kepentingan interaksi ini berhubungan dg kepentingan praktis (practical interest) yg melibatkan rasionalitas praktis (practical rationality) yg direpresentasikan dlm ilmu pengetahuan sejarah dan hermeneutika (historical-hermeneutical science).
  1. Kepentingan Kekuasaan (power)
·         Berhubungan dg distribusi kekuasaan dlm tatanan sosial utk menciptakan dominasi2 ttt.
·         Mengarahkan distorsi komunikasi
·         Mll kesadaran akan adanya ideologi2 yg mendominasi dlm masyarakat, kelompok2 dpt memberdayakan diri mereka sendiri utk mengubah kondisi masyarakatnya. Konsekuensinya kekuasan mempunyai kepentingan emansipatoris (emancipatory interest) yg melibatkan rasionalitas refleksi-diri (self-reflection rationality) yg direpresentasikan dlm ilmu pengetahuan kritis (critical science/ critical theory).

Masyarakat komunikatif
§  Habermas menjelaskan bahwa proses belajar masyarakat secara evolusioner tergantung pada kompetensi individu-individu yang menjadi anggotanya.
§  Kompetensi itu dikembangkan bukan secara individual dan terisolasi, melainkan lewat interaksi sosial dengan medium struktur-struktur yang berasal dari dunia kehidupan mereka
§  Ada tiga tahap perkembangan kompetensi komunikatif, yaitu
1.       Pertama, tahap interaksi melalui simbol-simbol, dimana tuturan dan tindakan masih terkait dalam kerangka kerja sebuah komunikasi tunggal yang bersifat memerintah .
2.       Kedua, tatap tuturan yang didifferensiasikan dengan pernyataan-pernyataan, yang untuk pertama kalinya antara tindakan dan tuturan dipisahkan. Pada tahap ini dikatakan telah terbentuk sebuah “peran sosial”, krn setiap individu bertindak sebagai pelaku sekaligus pengamat .
3.       Ketiga, pada tahap perbincangan (diskursus) argumentasi. Komunikasi sudah menyangkut pencarian klaim-klaim kesahihan tindakan- tuturan (Speech-acts).
Melalui pentahapan tersebut yang diinginkan adalah masyarakat komunikatif yang terbentuk melalui kesepakatan bersama yang didasarkan atas prinsip konsensus antar masyarakat secara dialogis .



                                                                                                                

MAZHAB FRANKFURT

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I


 
MAZHAB FRANKFURT
Sejarah berdiri dan orientasi ajaran. Mazhab Frankfurt digunakan untuk menunjukkan sekelompok sarjana yang bekerja pada Institut fur Sozialforschung di Frankfurt am Main. Didirikan oleh Felix Weil pada tahun 1923 dengan maksud membentuk sebuah pusat penelitian sosial yang dapat menyelidiki persoalan-persoalan sosial, seperti misalnya sejarah gerakan kaum buruh dan asal usul semitisme.
Lembaga ini mencapai periode keemasan, ketika Marx Horkheimer menjadi direkturnya pada tahun 1930. Lembaga penelitian sosial ini mengumpulkan banyak sarjana dari berbagai bidang keahlian, supaya persoalan yang menyangkut masyarakat dapat dipelajari dengan berbagai konsep-konsep ilmiah. Diantara anggota Mazhab Frankfurt adalah Friedrich Pollock (ekonomi), Leo Lowenthal (sosiologi kesusastraan), Walter Benjamin (ilmu kesusastraan), Theodor W. Adorno (filsafat, musikologi, psikologi dan sosiologi), Erich From (Psikoanalisa) dan Herbert Marcuse (filsafat)

Pemikiran filsafat
Pandangan filosiofis mazhab Frankfurt dikenal sebagai “teori kritis”. Nama ini diciptakan oleh Horkheimer . Teori ini berbeda dengan dengan filsafat tradisional yang sifatnya kontemplatif saja. Teori kritis memandang diri sebagai pewaris cita-cita Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris. Teori Kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan, melainkan berupaya mengubah. Teori Kritis mau menjadi Praksis.
Namun Teori Kritis tidak mau membebek pada Marxisme, yang menjiplak begitu saja karya Marx. Menurutnya masyarakat yang dianalisa Karl Marx berbeda dengan “masyarakat kapitalis tua” (spatkapitalismus).
Dalam pandangan Teori Kritis, masyarakat industri maju bersifat “totalitas”. Artinya kontradiksi-kontradiksi, frustasi-frustasi, penindasan-penindasan tidak lagi tampak. Semua segi kehidupan tampak normal, efisien, produktif, lancar, dan bermanfaat. Padahal nyatanya itu semua. Oleh karenanya selubung tersebut harus dibuka.
Dalam pandangan Herbert Marcuse, ciri khas yang menonjol dalam masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas dalam kapitalisme modern adalah rasionalitas teknologis, segala sesuatu dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat dan dimanipulasi.
Dalam pandangan teknologis, instrumentalisasi menjadi istilah kunci, disamping operasionalisasi. Mula-mula cara berpikir ini dipraktekkan dengan alam. Tetapi kemudian merambah pada wilayah politik, sosial dan kultural. Lahirlah proyek semacam social engineering.

Pada titik inilah terdapat perbedaan antara Teori Kritis dengan Karl Marx yang dapat disimpulkan dalam:
1.       Dalam masyarakat industri yang maju, teknik dan ilmu pengetahuan menjadi tenaga produktif pertama. Dengan demikian teori kritis menilai pekerjaan kehilangan artinya.
2.       Sekaligus pertentangan antara pekerjaan dan modal pun kehilangan relevansinya. Penindasan manusia tidak lagi berupa penindasan kaum kapitalis terhadap para pekerja, melainkan semua ditindas  oleh suatu sistem di mana proses produksi yang ditentukan oleh teknologi sudah tidak terkontrol lagi.
3.       Perbedaan yang  tajam pula dengan Karl Marx, adalah kaum proletar sudah terintegrasi ke dalam “sistem” sehingga tidak lagi bersemangat revolusioner. Proletariat bukan lagi subjek suatu revolusi menyeluruh.
4.       Dengan demikian revolusi sendiri kehilangan artinya. Dalam pandangan Teori Kritis suatu revolusi hanya akan mengembalikkan keadaan semula.
5.       Kritik terhadap ilmu ekonomi kapitalis diganti dengan kritik terhadap kebudayaan teknokratis secara keseluruhan
6.       Dengan tekanan pada fungsi  primer kesadaran dalam usaha emansipasi, bidang produksi tidak lagi memiliki primat mutlak. Maka skema basis-bangunan atas dianggap tidak berlaku lagi
7.       Dengan demikian mereka juga menolak dogma inti Marxisme, bahwa menurut hukum perkembangan ekonomi umat manusia niscaya menuju ke penghapusan masyarakat berkelas dan ke arah kebebasan manusia.

Teori Kritis vs Teori Tradisional
Kritik teori kritis terhadap Teori Tradisional  adalah bahwa teori tradisional hanyalah menyusun suatu sistem prinsip yang melukiskan dunia. Teori tradisional menekankan pengetahuan murni, tetapi kurang memperhatikan aksi.
Dalam pandangan Horkheimer, anggapan teori tradisional bahwa sifat keilmiahan diukur dengan objektivitas, adalah sebentuk status quo. Oleh karenanya menurut Teori Kritis, pengenalan tidak pernah merupakan suatu usaha yang terlepas dari aksi. Teori Kritis insaf bahwa kegiatan ilmiah pada dasarnya sama dengan memihak pada suatu bentuk masyarakat tertentu. Maka dari itu tujuanTeori Kritis adalah emansipasi manusia dari relasi-relasi kemasyarakatan yang memperbudak
Pada akhirnya Teori Kritis mengalami jalan buntu. Teori Kritis menerima dari Marx bahwa manusia itu makhluk yang bekerja. Dan karena bekerja selalu berarti menguasai, maka pekerjaan pembebasan itu selalu akan menghasilkan perbudakan baru. Namun sebagaimana diperlihatkan oleh Jurgen Habermas, pekerjaan itu hanyalah satu tindakan dasar manusia saja. Pekerjaan adalah usaha manusia untuk menyesuaikan alam dengan kebutuhannya. Di samping pekerjaan masih terdapat tindakan yang sama dasariahnya yaitu, interaksi atau komunikasi antar-manusia.

Wednesday, March 28, 2012

PERSPEKTIF KRITIS

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I

 
PERSPEKTIF KRITIS
Aspek Esensial
Ilmuwan sosial kritis yakin akan perlunya pemahaman pada pengalaman kehidupan orang2 nyata dalam konteksnya,Pendekatan kritis meneliti kondisi2 sosial & membongkar tatanan2 kekuasaan opresif. Dalam komunikasi, ilmuwan kritis scr khusus tertarik pd bagaimana pesan2 memperteguh opresi di masyarakat.
Ilmu sosial kritis membuat sebuah kesadaran melalui upaya penyatuan teori & tindakan. Tujuan penelitian kritis utk mengekspos cara2 benturan berbagai kepentingan yg berkompetisi & penyelesaian konflik2  oleh satu kelompok atas kelompok yg lain. Tujuan penelitian kritis membongkar proses dominasi yg biasanya tersembunyi. Contoh: Postcolonial theory.
Marxisme
Pemikiran Karl Marx
  1. Kritik Masyarakat
Menurut Karl Marx, terjadinya masyarakat borjuis erat hubungannya dengan kapitalisme. Dan hakikat masyarakat borjuis adalah uang. Dlm sistem kapitalis, profit mendorong produksi & mendominasi tenaga kerja. Kelas pekerja ditindas oleh kelas yg lebih berkuasa yg mendapatkan untung dari profit (kaum kapitalis). Oleh karena masyarakat kapitalis berdasarkan hak milik pribadi atas alat-alat produksi, emansipasi menurut Marx hanya dapat dicapai kalau hak milik pribadi itu dihapus. Dan itu bisa dilakukan lewat revolusi kaum proletar.
b.      Dehumanisasi dalam sistem produksi kapitalis
Marx menggambarkan dehumanisasi yang terjadi di bawah sistem produksi kapitalis dengan sebutan “keterasingan”. Buruh bekerja bagi kekuasaan asing, bagi pemilik modal. Oleh karena itu pekerjaannya adalah kerja paksa. Jadi menurut Marx realitas masyarakat ditentukan oleh kekuasaan kelas yang satu di atas yang lain
c.       Kritik Agama
Dengan bertolak dari Feuerbach, Marx mengkritik agama. Baginya agama hanyalah proyeksi sifat-sifat manusia ke dalam surga. Menurut Marx manusia hanya dapat memproyeksikan hakikatnya ke dalam surga, karena ia sudah terasing daripadanya. Kritik sasaran Marx sesungguhnya adalah keterasingan nyata manusia dalam masyarakat modern
d.      Masyarakat yang teremansipasi
Marx mengandaikan suatu emansipasi manusia, dan emansipasi itu dipahami sebagai perealisasian diri yang menyeluruh dan bebas dari heteronomi . Mark mengidamkan sebuah masyarakat komunis, dimana setiap orang bebas dari pembagian kerja.
e.       Materialisme historis
Marx mengajarkan bahwa emansipasi perlu diusahakan. Emansipasi tercapai apabila manusia mewujudkan diri secara bebas dari heteronomi, secara sosial, bebas dari kepentingan, secara produktif . Marx beranggapan bahwa Alat2 produksi dlm masyarakat (base) menentukan sifat dr masyarakat (superstructure). Ekonomi basis seluruh struktur masyarakat. Cara produksi kehidupan material mensyaratkan proses kehidupan sosial, politis dan rohani pada umumnya
f.         Filsafat manusia
Marx memahami manusia sebagai makhluk objektif. Maksudnya ialah bahwa manusia selalu menemukan diri dalam dunia. Maka manusia baru nyata apabila ia mengobjektifkan diri ke dalam dunia. Sekaligus alam itu harus disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Untuk itu manusia harus bekerja. Oleh karenanya, menurut Marx, pekerjaan merupakan perealisasian diri manusia.

LOUIS ALTHUSSER
Ideologi hadir dlm struktur masyarakat itu sendiri & muncul dlm praktek2 aktual yg dilakukan oleh institusi2 dlm masyarakat. Ideologi scr nyata membentuk kesadaran individu & menciptakan pemahaman subjektif orang pd pengalaman.
Superstruktur (organisasi sosial) menciptakan ideologi yg pd gilirannya ideologi itu mempengaruhi pemahaman individu pd realitas.Superstruktur terdiri dari dua elemen:
1.       Repressive State Apparatus (RSA): polisi & militer
2.       Ideological State Apparatus (ISA): pendidikan, religi, media massa
RSA menegakkan ideologi dg kekuatan fisik. ISA mereproduksi ideologi secara halus melalui aktivitas komunikasi sehari2 sebagai normalitas.

ANTONIO GRAMSCI
Hegemoni
Proses dominasi dimana seperangkat gagasan-gagasan memperlemah atau mengkooptasi gagasan-gagasan yg lain. Terjadi ketika peristiwa-peristiwa atau teks-teks diinterpretasikan dg satu cara yg mendukung/ menguntungkan kepentingan-kepentingan satu kelompok di atas kepentingan-kepentingan kelompok lain. Proses halus yg mengkooptasi kepentingan-kepentingan satu kelompok subordinat dlm kepentingan-kepentingan satu kelompok dominan.