Pages

Saturday, March 24, 2012

FILSAFAT KLASIK

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I

 
FILSAFAT KLASIK
Filsafat Pra-Socrates
Awalnya manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu. Hal inilah yang menjadi pertanyaan di kalangan filosof, sehingga mereka disebut filosof alam. Para filosof alam ini juga disebut filosof pra-Socrates, sedangkan Socrates dan sesudahnya disebut filosof pasca Socrates yang tidak hanya mengkaji tentang alam, tetapi juga manusia.
  1. Filsuf alam pertama yang mengkaji asal-usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari Bapak Filsafat karena dialah yang mula-mula mempertanyakan asal-usul alam. Ia mengatakan asal alam semesta adalah air, karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup.
  2. Anaximandros (610-540 SM) mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Unsur utama alam harus yang mencakup segalanya dan di atas segalanya, yang ia namakan sebagai apeiron
  3. Berbeda dengan Thales dan Anaximandros, Heraklitos (540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, yang dingin menjadi panas, yang panas menjadi dingin. Karena itu dia berkesimpulan, tidak ada sesuatu yang benar-benar ada, semuanya proses “menjadi”. Ungkapan yang terkenal untuk itu adalah pantha rhei uden menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal menetap). jadi bahan dasar alam semesta adalah api
  4. Parmenides (515-440 SM) menyatakan bahwa realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Dia menegaskan yang ada itu ada, inilah kebenaran baginya. Oleh karenanya ia beranggapan bahwa substansi alam semesta adalah tanah.
  5. Pythagoras (580-500 SM) mengembalikan segala sesuatu kepada bilangan. Baginya tidak ada satupun yang di alam terlepas dari bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran.
  6. Protagoras (481-411 SM). Ia adalah filsuf sofis yang menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Pernyataan ini merupakan cikal bakal dari humanisme. Oleh karenanya kebenaran bersifat subjektif dan relatif. Akibatnya tidak ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahwa matematika dianggapnya tidak mempunyai kebenaran yang pasti.
Filsafat Pasca Socrates
  1. Socrates (469-399 SM) berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.
Cara pengajaran Socrates disebut dialektika. Sebutan yang lain ialah maieutika, seni kebidanan. Karena dengan cara ini Socrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran bayi atau “pengertian yang benar”. Dengan cara berdialektika itulah Socrates menemukan cara berpikir induksi, yaitu menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyaknya pengetahuan yang khusus.
Menurut Socrates, jiwa adalah intisari manusia. Jiwa manusia bukanlah nafas semata, tetapi asas hidup manusia yang dalam. Oleh karena jiwa adalah intisari manusia, maka manusia wajib mengutamakan kebahagian jiwanya (eudaimania). Dan alat untuk mencapai kebahagian adalah kebajikan atau keutamaan (arete)
  1. Plato (427-347 SM) berhasil mendamaikan pandangan yang bertentangan antara Herakleitos dan Parminedes. Menurut Plato bahwa yang serba berubah itu dikenal oleh pengamatan, akan tetapi yang tidak berubah dikenal oleh akal. Yang tetap, tidak berubah dan kekal itu oleh Plato disebut “idea”.
Plato memandang jiwa dan tubuh dinilai sebagai dua kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan. Jiwa adalah sesuatu yang berasal dari dunia idea. Oleh karenanya tidak dapat mati. Jiwa memiliki tiga bagian, yaitu rasional yang dihubungkan dengan kebijaksanaan, kehendak yang dihubungkan dengan keberanian dan keinginan atau nafsu yang dihubungkan dengan pengendalian diri.
  1. Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato yang berhasil menyatukan filsafat dalam satu sistem yaitu logika, matematika, fisika dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisa bahasa yang disebut silogisme. Logika Aritoteles ini disebut juga dengan logika deduktif
Intisari ajaran Aristoteles mengenai fisika dan metafisika terdapat dalam ajarannya tentang apa yang disebut sebagai dunamis (potensi) dan energeia (aksi). Pandangan Aristoteles tentang manusia berseberangan dengan Plato. Baginya jiwa dan tubuh dianggap sebagai dua aspek dari satu substansi. Oleh karenanya tidak ada kekekalan jiwa.

0 comments:

Post a Comment