Pages

Wednesday, March 28, 2012

PERSPEKTIF POSITIVISME & POST-POSITIVISME

Dosen : Khaerul Azmi, S.Sos.I, M.Sos.I

 
PERSPEKTIF POSITIVISME
Positivisme, sebagai salah satu aliran filsafat yang bebas nilai dikembangkan mulai abad ke 19.
1.       Positivisme sosial; Tokohnya Henry Sain Simon dan Auguste Comte. Paham ini meyakini bahwa kehidupan sosial hanya dapat di capai melalui penerapan ilmu-ilmu positif. Tokoh lainnya yaitu; John Stuart Mill, Gioseppe Ferrari, dll.

2.       Positivisme evolusioner; Tokohnya Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Wilhem Wundt, Ernst Hackel. Jika positivisme sosial percaya kemajuan dapat berlangsung berdasarkan ilmu pengetahuan, sedang positivisme evolusioner meyakini interaksi manusia-semesta sebagai penentu kemajuan.


3.       Positivisme logis; tokohnya Rudolph Carnapp, Alfred Ayer, Wittgenstein, dll. Paham ini lebih memfokuskan diri pada logika dan bahasa ilmiah. Prinsip yang diyakini paham ini adalah ISOMORFI yaitu adanya hubungan mutlak antara bahasa dan dunia nyata.
Bahasa adalah gambar dari kenyataan, karena bahasa sehari-hari tidak bisa menggambarkan kenyataan secara benar maka dikembangkanlah bahasa logis dengan kecermatan matematis yg akurat. Positif berarti, “apa yg berdasarkan pada fakta objektif”. Asumsi dasar positivisme tentang realitas adalah tunggal, dalam artian bahwa fenomena alam dan tingkah laku manusia itu terikat oleh tertib hukum. Fokus kajian-kajian positivis adalah peristiwa sebab-akibat (kausalitas).
Dalam hal ini, positivisme menyebutkan, hanya ada dua jalan untuk mengetahui:
  1. Verifikasi langsung melalui data pengindera (empirikal).
  2. Penemuan lewat logika (rasional).
Positivisme mempunyai slogan yang terkenal yaitu "savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir" yang artinya dari ilmu muncul prediksi, dan dari prediksi muncul aksi.
Ide pokok positivisme menurut Kincaid:
  • Bahwa ilmu pengetahuan merupakan jenis pengetahuan yang paling tinggi tingkatannya, dan karenanya kajian filsafat harus juga bersifat ilmiah (that science is the highest form of knowledge and that philosophy thus must be scientific).
  • Bahwa hanya ada satu jenis metode ilmiah yang berlaku secara umum, untuk segala bidang atau disiplin ilmu, yakni metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu alam.
  • Bahwa pandangan-pandangan metafisik tidak dapat diterima sebagai ilmu, tetapi "sekadar" merupakan pseudoscientific.
kebenaran yang dianut positivisme dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan kata lain, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut.
Komponen-komponen pokok teori dan metodologi positivis adalah sebagai berikut:
  • Metode penelitian: kuantitatif
  • Sifat metode positivisme adalah obyektif.
  • Penalaran: deduktif.
  • Hipotetik

POST POSITIVSME
Munculnya gugatan terhadap positivisme  di mulai tahun 1970-1980an. Pemikirannya dinamai “post-positivisme”. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf mazhab Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa di prediksi dengan satu penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah.

Asumsi Dasar Post-Positivsme
  1. Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.
  2. Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali.
  3. Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
  4. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah.
  5. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
  6. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
  7. Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah keputusan.
Komponen-komponen pokok teori dan metodologi post-positivis adalah sebagai berikut:
  • Metode penelitian: kualitatif
  • Sifat metode post-positive: Subyektif
  • Penalaran: Induktif.
  • Interpretatif

0 comments:

Post a Comment